Andre Onana Kembalinya Kamerun di Pentas Kiper Terbaik Eropa

Andre Onana Kembalinya Kamerun di Pentas Kiper Terbaik Eropa

 

http://www.ligajitu.org/togel-hk/ – UEFA baru saja mengumumkan 50 nama pesepak bola terbaik yang bermain di seantero Eropa. Penilain diambil dari penampilan di klub dan Timnas Eropa. Liverpool mendominasi dengan menyumbangkan 10 pemainnya dari semua lini, hanya kurang Joel Matip atau Dejan Lovren, The Reds sudah bisa membentuk starting eleven-nya sendiri di pool nominasi. Gelar UCL musim lalu menjadi acuan penampilan mereka.Ajax yang tampil penuh pesona pun kebagian jatah banyak.

Para pemain yang menjadi nominator dipilih oleh tim editorial UEFA.com, berdasarkan performa mereka sejak Januari hingga Desember 2019. Siapapun bisa memberikan suara untuk para nominator, terhitung mulai 26 November hingga 9 Januari 2020 mendatang untuk menentukan 11 pemain UEFA team of the year 2019.

Dari 50 nama nominator berdasar asal pemain, Amerika Selatan menyumbang sembilan pemain, Afrika menyumbang enam nama, dengan menempatkan Sadio Mane dan Mo Salah sebagai kandidat terkuat masuk dalam komposisi Sebelas Terbaik, mengingat penampilan ciamik mereka bersama Liverpool tahun ini. Asia hanya mengirimkan Son Heung Min seorang dan sisanya berasal dari Eropa.

Tapi dari semua pemain Afrika yang terpilih di nominasi ini, ada satu nama yang membuat terkejut: Andre Onana, kiper nomor satu Ajax yang berasal dari Kamerun. Kenapa mengejutkan? Karena akhirnya kita kembali tersadar, bahwa orang Afrika pun bisa menjadi penjaga gawang kompeten di Eropa.

Semua yang Terbaik Kecuali Kiper

Afrika pernah dan secara konsisten masih memproduksi pemain depan berbakat, sebut saja George Weah yang merupakan pemain Afrika dan non Eropa pertama yang meraih gelar Ballon d’Or dan Pemain Terbaik FIFA pada tahun 1995. Atau Samuel Etoo, pemain langka yang merasakan treble winner dua musim beruntun dengan dua klub berbeda di dua liga yang berbeda pula, atau Didier Drogba, sang legenda Stamford Bridge. Nama yang terahir disebut juga sebagai nama Afrika terakhir yang terpilih dalam Tim Terbaik Eropa dan itu terjadi pada 2007 silam.

Dari penyerang kokoh, gelandang lincah nan gesit hingga bek tangguh lahir dari benua Afrika, namun tidak dengan kiper. Lionel Messi dan Argentina mungkin tidak setuju dengan pendapat ini, namun Vincent Enyeama, kiper andalan Nigeria di Piala Dunia 2010 dan 2014 hanya bermain di klub semenjana yang tak berkiprah banyak di kejuaraan antar klub Eropa.

Memang ada beberapa nama penjaga gawang beken berkulit hitam yang berdarah Afrika dan berprestasi bagus. Semisal Bernard Lama, yang tumbuh besar di Guyana Perancis. Lama bermain untuk Paris Saint-Germaine, namun dia memilih kewarganegaraan Perancis dan meraih Piala Dunia 1998 meski hanya sebagai pemain cadangan.

Mantan penjaga gawang Amerika Serikat, Tim Howard, juga seorang Afro-Amerika, penjaga gawang eksentrik Kolombia Rene Higuita, David James yang sempat menjadi kiper nomor satu Inggris, atau Nelson Dida dari Brazil yang menjadi juara Liga Champions Eropa 2004 bersama AC Milan. Tapi itu semua tidak mewakili apa yang bisa disebut sebagai kiper Afrika di liga terbaik Eropa.

Baru kali ini muncul nama Andre Onana. Setelah pindah dari tim junior Barcelona pada musim panas 2015, pemain berumur 23 tahun tersebut berhasil menembus skuad utama Ajax di musim berikutnya. Mengantarkan de Amsterdammers ke final Liga Eropa UEFA 2017 dan menembus fase semi final Liga Champions UEFA 2019 serta menjuarai Eredivisie.

Perkembangan pesat Onana juga dibantu oleh Edwin van der Sar -yang sekarang bertugas sebagai CEO Ajax- sang kiper legendaris Belanda yang juga meroket bersama Ajax di kala masih muda, sedikit melempem di pertengahan karir dan kembali meroket di masa-masa terakhirnya sebagai pesepak bola. Tentu saja, ada banyak ilmu yang diturunkannya pada Onana.

Tradisi Kiper Kamerun

Tidak seperti negara-negara Afrika lainnya, Kamerun memiliki tradisi kiper tangguh nan kokoh. Mirip seperti Brazil di belahan bumi lainnya, yang produktif mengekspor kiper tangguhnya ke Eropa. Walau budaya sepak bola tumbuh di jalanan dan tanah lapang nan kering, kiper handal bisa dilahirkan dari sana.

Sebut saja Idriss Carlos Kameni yang merupakan salah satu penjaga gawang top La Liga. Bermain untuk tim medioker Espanyol dan lalu pindah ke Malaga setelah investasi besar-besaran di klub Andalusia tersebut yang berujung gagal.

Sebelumnya, ada Jacques Songo’o yang meraih titel La Liga bersama Deportivo La Coruna, sekaligus mengantarkannya meraih gelar El Zamora, penghargaan untuk kiper terbaik La Liga pada musim 1996/1997. Songo’o sendiri merupakan salah satu pemain yang terlibat dalam Piala Dunia 1990 di Italia, tempat dimana Kamerun mengejutkan dunia dan melenggang hingga perempat final. Karirnya di Timnas Kamerun memang tidak cemerlang, lebih karena Songo’o berada di jaman yang salah. Bayangin nyesek-nya si emak yang melahirkannya sejaman dengan Joseph-Antoine Bell dan Thomas Nkono. Kurang lebih seperti nasib Victor Valdes yang harus menunggu Pepe Reina dan Iker Casillas cedera terlebih dahulu untuk dapat bermain.

Posisi penjaga gawang utama Kamerun pada dekade 80-an adalah milik Joseph-Antoine Bell, satu dari sedikit pemain Kamerun yang dikenal publik Eropa. Dia adalah salah satu penjaga gawang Afrika pertama yang bermain di Eropa, selain dikenal karena kemampuannya menjaga gawang yang hebat, juga karena kritiknya yang blak-blakan tentang Federasi Sepak Bola Afrika, yang membuatnya tersingkir dari Piala Dunia Italia ’90. Selama tahun 80-an di Prancis, ia berulang kali meminta pisang dilemparkan kepadanya, dan merupakan salah satu pemain kulit hitam pertama yang mengatasi rasisme, memaksa Federasi Sepakbola Prancis untuk menindak penggemar rasis. Josef Antoine Belle menikmati karier selama 20 tahun yang mencakup tiga piala dunia, dua gelar Piala Afrika, dan sukses di beberapa klub besar Prancis, termasuk Marseilles, Bordeaux, dan St Etienne.

Pada gelaran Piala Dunia Italia 1990, beberapa jam menjelang pertandingan pembuka melawan sang juara bertahan Argentina, ofisial tim memutuskan untuk menunjuk Thomas Nkono sebagai kiper utama dan menyingkirkan Bell yang kritis dan Songo’o yang masih muda tak berpengalaman. Sisanya menjadi sejarah besar, Kamerun menang satu gol tanpa balas melawan Tim Tango yang diperkuat Diego Maradona.

Thomas Nkono juga sering disebut sebagai penanggung jawab kuatnya tradisi penjaga gawang di Kamerun. Nkono menjaga gawang Kamerun selama dua dekade, pernah bermain untuk Espayol di La Liga dan membangun reputasinya sendiri sebagai salah satu kiper elit di masanya.

Ada cerita mengenai seorang gelandang muda berusia 12 tahun asal Tuscany, yang setelah menyaksikan penampilan heroik Nkono pada Piala Dunia 1990 mulai berpikir untuk menjadi seorang penjaga gawang dan membeli sepasang sarung tangan pertamanya. Bocah tersebut tumbuh dewasa dan bahkan menjuarai Piala Dunia 2006, menjelma menjadi salah satu penjaga gawang terbaik dunia. Nama anak muda tersebut adalah Gianluigi Buffon, yang bahkan menamai putranya Thomas sebagai penghormatan kepada sang inspirator.

Saat ini, Onana sedang membangun reputasinya sendiri. Bersama sepupunya, Fabrice Ondoa, bersaing untuk mengisi pos penjaga gawang utama Timnas Kamerun. Keduanya tumbuh dan bermain bareng, dari Akademi Sepakbola Samuel Eto’o hingga ke La Masia, hingga akhirnya Ajax memboyong Onana pada 2015 sedangkan Ondoa kini bermain untuk KV Oostende di Liga Profesional Belgia.

Kembalinya Bakat Afrika

Kiper adalah posisi kunci, bisa dibilang batu fondasi setiap tim. Mereka adalah pemimpin di kotak pinalti, mengatur siapapun dia yang ada di kuasa lapangannya, menghentikan serangan lawan dan memulai serangan. Seorang kiper dapat memberi rasa aman pada teman satu tim sekaligus menginspirasi kemenangan.

Namun, ada semacam anggapan bahwa kiper berkulit hitam tidak kompeten, sering melakukan kesalahan dan cenderung melakukan hal yang tidak perlu. Penjaga gawang adalah posisi yang pragmatis, cukup tampil text book dan taat instruksi pelatih.

“Saya tidak melihat perbedaan antara kiper berkulit hitam atau putih. Mereka sama, mereka melakukan kesalahan. Saya membuat kesalahan, semua kiper melakukannya. Kiper berkulit hitam harus mempersiapkan diri dengan baik karena ini tidak mudah bagi kami,” kata Onana pada BBC.

Bagaimanapun, Eropa adalah rumah pesepak bola elit dunia, menjadi yang terbaik di Eropa adalah menjadi yang terbaik di dunia. Dengan tolak ukur seperti ini, kehadiran kiper Afrika di jajaran klub elit Eropa adalah sebuah sinyal positif, bahwa bakat-bakat Afrika sanggup sanggup bersaing di semua posisi.

Andre Onana memang belum bisa diperbandingkan dengan Allison Becker, Ederson Moraes, Marc Andre Ter Stegen, atau Jan Oblak. Namun dengan masuknya dia dalam pot nominasi, setidaknya membuktikan bahwa tradisi kiper kuat Kamerun masih berlanjut, dan bahwa Afrika pun mampu memproduksi kiper handal untuk bersaing dengan bakat-bakat brilian dari benua terbaik lainnya.