Neymar dan Pemain Lain yang Pernah Diusir Fans Sendiri

Neymar dan Pemain Lain yang Pernah Diusir Fans Sendiri

Neymar dan Pemain Lain yang Pernah Diusir Fans Sendiri

 

Paris Saint-Germain (PSG) berhasil memulai kiprah mereka di Ligue 1 2019/2020 dengan impresif. Bermain di Parc des Princes, Senin (12/8/2019) dini hari WIB, PSG sukses menghancurkan Nimes Olympique dengan skor mencolok, 3-0.

Penampilan skuat asuhan Thomas Tuchel di pertandingan tersebut memang tanpa cela. PSG sukses mendominasi bola—dengan persentase mencapai 75%. Mereka juga membuat Nimes hanya mampu melepaskan satu tembakan mengarah ke gawang.

Sayangnya, bagi PSG, hari itu tak berlangsung sempurna. Ketika Kylian Mbappe dkk. bermain cemerlang, suporter mereka justru sibuk mencemooh pemain yang bahkan tidak menjejakkan kakinya di lapangan sama sekali. Ya, siapa lagi kalau bukan Neymar.

Neymar tak hanya diejek, tetapi juga diusir secara terang-terangan. Dari satu sisi tribune yang berisi suporter garis keras PSG, dapat terlihat spanduk bertuliskan “Neymar, cassetoi!”. Dalam Bahasa Indonesia, frasa itu memiliki arti “Neymar, pergilah!”.

Tentu saja, tak ada asap tanpa api. Keinginan Neymar untuk hengkang jelas membuat geram suporter PSG. Bintang Timnas Brasil itu juga sempat membolos dari latihan pramusim PSG. Pelatih PSG, Thomas Tuchel, bahkan bisa mewajarkan tindakan suporter timnya itu, meskipun ia tetap membela Neymar.

Dari situ, opini penonton netral terbelah. Ada yang membela Neymar, tetapi ada juga yang menjustifikasi aksi suporter PSG.

Apapun itu, kami tak berminat untuk membela siapa-siapa. Yang kami ingin sorot adalah kenyataan bahwa Neymar bukanlah satu-satunya pesepak bola yang pernah diejek dan diusir oleh pendukungnya sendiri.

kumparanBOLA telah mengumpulkan beberapa kisah pesepak bola yang pernah mengalami apa yang Neymar alami.

Mauro Icardi

Reaksi Icardi usai Inter kebobolan. 

Hubungan buruk Icardi dengan suporter Inter Milan bukanlah sebuah rahasia. Pada dasarnya, Icardi sempat menjadi pemain terbaik Inter. Penyerang asal Argentina ini bahkan pernah mengapteni Nerazzuri.

Namun, Icardi kerap kali membuat ulah, mulai dari menolak bermain, hingga menolak perpanjangan kontrak dengan klub. Segelintir kelakuannya itu membuat suporter Inter geram. Namun, hubungan Icardi dengan ultras Inter hancur setelah ia mengkritik suporter garis keras itu lewat otobiografinya yang ia luncurkan pada 2016 silam.

Setelah itu, Icardi selalu menjadi sasaran sorakan dan ejekan suporter Inter. Puncaknya terjadi pada April 2019 lalu, ketika ultras Inter merilis pernyataan yang menegaskan bahwa Icardi tak akan dapat berada di klub kesayangan mereka lagi.

“Kami tak akan menarik diri dari Icardi. Ia tak dapat menjadi masa depan Inter. Ia menolak bermain dengan alasan yang konyol. Ia menggali kuburannya sendiri,” berikut pernyataan ultras Inter menyoal Icardi, dikutip dari Football Italia.

Gareth Bale

Gareth Bale melakukan pemanasan di bangku cadangan Real Madrid. 

Kisah Bale di Real Madrid sedikit banyak serupa dengan Icardi di Inter. Bale sempat menjadi pemain yang berpengaruh bagi permainan Madrid, tetapi ia tak pernah benar-benar memenangkan hati suporternya.

Level penampilan Bale memang menurun, terutama setelah mengalami beberapa cedera panjang. Namun, menurut pakar sepak bola Spanyol, Phil Kitromilides, alasan terbesar mengapa suporter Madrid tak mampu untuk mencintai Bale sepenuhnya adalah karena eks pemain Tottenham Hotspur itu tak pernah berbicara dengan bahasa lokal di depan umum.

Dari situ, Bale kerap kali disoraki oleh suporternya sendiri ketika bertanding. Belakangan ini, ia bahkan mendapat ejekan saat melakoni tur pramusim bersama Madrid. Situasi Bale semakin pelik setelah pelatih Madrid, Zinedine Zidane, secara terang-terangan berupaya menyingkirkannya dari skuat.

Roman Zozulya

Roman Zozulya (kanan) saat membela Timnas Ukraina. Foto:
Nama Zozulya barangkali yang paling tidak tenar di daftar ini. Namun, kisahnya bisa dibilang yang paling menarik ketimbang yang lain.

Penyerang asal Ukraina ini diusir oleh suporter Rayo Vallecano kala dipinjamkan dari Real Betis pada Januari 2017 lalu. Alasannya, Zozulya dianggap sebagai pendukung sayap kanan Ukraina oleh suporter Vallecano. Di satu sisi, Vallecano memang lekat dengan sayap kiri Spanyol.

Zozulya bahkan sempat dilabeli ‘Nazi’ oleh suporter Vallecano. Alhasil, sang penyerang langsung kembali ke Betis tanpa mencatatkan menit bermain satu kali pun bersama Vallecano. Mirisnya, tudingan suporter Vallecano itu tak pernah benar-benar terbukti.

Ilkay Guendogan

Ilkay Guendogan bersama Timnas Jerman.

Kisah Guendogan juga cukup menarik. Berbeda dengan yang lain, Guendogan disoraki dan diusir ketika membela negaranya, Jerman.

Di pertandingan UEFA Nations League melawan Prancis yang berlangsung di Muenchen—beberapa bulan setelah kehancuran Jerman di Piala Dunia 2018—Guendogan menjadi sasaran kemarahan suporter timnasnya. Menariknya, pemain-pemain Jerman lainnya disambut dengan semarak.

Guendogan disoraki akibat fotonya bersama rekan senegaranya, Mesut Oezil, dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, beredar di media sosial. Guendogan dan Oezil, yang memiliki darah Turki, menjadi sasaran kritikan akibat foto tersebut.

Akibat kritik-kritik tersebut, Oezil memutuskan untuk mundur dari Timnas Jerman. Guendogan, yang dua tahun lebih muda dari Oezil, tak ingin mengikuti jejak seniornya. Gelandang Manchester City itu tetap ingin membela Jerman. Hebatnya, setelah menerima sorakan di laga melawan Prancis itu, determinasi Guendogan untuk memperkuat negaranya masih tetap tinggi.

David Beckham

David Beckham saat masih membela Los Angeles Galaxy.

Beckham barangkali menjadi pemain yang paling sering disoraki oleh suporternya sendiri. Beckham pernah mendapatkan ejekan dari suporter timnya kala masih membela Timnas Inggris dan Manchester United. Namun, perlakuan yang paling tidak menyenangkan ia terima dari suporter klub MLS Amerika Serikat (AS), Los Angeles Galaxy.

Beckham menjadi sasaran kebencian suporter Galaxy setelah pindah ke AC Milan dengan status pinjaman. Jelang kepulangannya ke Galaxy, Beckham sempat menyatakan keinginannya untuk tetap bermain di Italia, karena permainan di sana lebih baik dari di AS.

Pernyataan Beckham itu membuat geram suporter Galaxy. Ketika Beckham kembali pada Juli 2009, mereka mengejek sang pemain sembari mengangkat banner bertuliskan “Go home fraud!”, yang artinya “Pulang sana, penipu!”.

Untungnya, Beckham tetap bertahan. Jago tendangan bebas itu kemudian berperan besar dalam kesuksesan Galaxy menjuarai Piala MLS di tahun 2011.